Sabtu, 28 Oktober 2017

Sarapan Pagi

Sarapan Pagi

Ponco Dwi Putra


Ibu saya menyuguhkan sesajen pagi,
Dengan sedikit ambisi dan arogansi

Di balut kopi, dengan 2 buah gorengan pisang.

Saya akumulasikan marah,
Dan tetap menjadi pribadi yang ramah.

Oh Dosen Oh Mahasiwa

Oh Dosen Oh Mahasiswa

Ponco Dwi Putra


Dosen ketua.
Mahasiswa anggota.
Pemikiran dosen ortodoks.
Hidung mahasiswa seperti di cocok's.

Dosen sederhana.
Mahasiswa temanya.
Pemikiran dosen seiras.
Hidup mahasiswa tetap waras.

Dosen aneh.
Mahasiswa malah terkekeh.
Pemikiran dosen arogan.
Mahasiswanya malah sungkan.

Oh Dosen Oh Mahasiswa
Oh Mahasiwa Oh Dosen

Fatamorgana

Fatamorgana

Ponco Dwi Putra


Hari menjelang petang.
Pukul 16:00 waktu indonesia bagian barat.
Taman yang tak jauh dari rumah.

Di antara ramainya orang dengan kesibukannya,
Saya bersila di atas ukiran semen yang di hiasi coretan nakal dan barisan semut merah,
Di temani buku berjudul Hope - Kick Andy.

Lalu perhatianku terganggu...
Ketika ku lihat ke arah barat, 
Sekumpulan anak muda paruh baya asik bermain bola.
Sesekali ada yang terjatuh, bertengkar kecil saling membela, lalu bermain lagi.
Cerminan sepak bola, selalu ada drama yang menghiasi.

Ketika ku lihat ke arah selatan,
Sepasang muda-mudi berseragam,
Memadu kasih di bawah pohon yang rindang,
Aku menilisik lebih dalam, tepatnya aku mengawasi.
Aku takut taman ini menjadi wadah bibit-bibit kejahatan bersemi.

Hari menjelang malam,
Perut sudah tidak dapat berkompromi,
Aku pergi meninggalkan pesan,
"Yang terhormat pasukan semut, jangan sampai taman ini menjadi tempat prostitusi. Amati dia semut merah, kalau perlu dengan tatapan marah."


Menara Keriduan

Menara Kerinduan

Ponco Dwi Putra


Sejujurnya, hakikat rindu itu seperti apa?
Mengapa rasa rindu itu di ciptakan? Jika rindu hanya membuat manusianya mendayu-dayu.

Ingin aku mendekap gunung, apa dayaku gununya malah meletus.
Ingin aku rebahan di laut, apa dayaku lautnya malah tsunami.
Ingin aku mencium tanah, apa dayaku tanahnya malah gempa bumi.
Ingin aku memelukmu, apa dayaku wudhu menjaga ku agar tetap tawadhu.

Jangan-jangan saya memang tidak pantas untuk melepas rindu, walau hanya untuk beberapa saat.

Dengan kereta adzan yang berkumandang, dan di sudut bangunan dengan lantai yang dingin.
Telah ku tulis rindu ini yang tak pernah bertepi...

Oktober 2017, Student Center

Sepucuk Surat Untuk Kampusku

Sepucuk Surat Untuk Kampusku

Ponco Dwi Putra

Di kampusku...
Banyak orang-orang sibuk membaca buku,
Banyak orang-orang sibuk menuntut ilmu,
Sampai-sampai lupa akan hakikat waktu.
Di kampusku...
Banyak orang-orang yang berargument merasa dirinya yang paling keren,
Banyak orang-orang yang berdebat merasa dirinya yang paling bermartabat,
Sampai-sampai nama tuhan ikut terlibat dan agama menjadi alat.
Di kampusku...
Banyak orang-orang lugu yang sok tau,
Banyak orang-orang awam yang sok suci,
Sampai-sampai memaksakan penafsiran orang lain dan mencaci maki orang yang mengerti.
Di kampusku...
Banyak orang-orang yang berbakat,
Banyak orang-orang yang tersesat,
Sampai-sampai banyak terjadi tipu muslihat.
"Sorak-sorak bergembira"
Lalu, di kelasku...
Banyak cinta yang tersaji,
Banyak juga benci yang menghasuti,
Sampai-sampai ada yang cinta lalu membenci.
Sejujurnya, aku suka dengan keluguanmu.
Namun bukan berarti kamu serba tidak tau.
Kita sudah dewasa, jangan mau di perdaya, apalagi kita mahasiswa.
Pemikiran kita harus kritis dan logis.
Biarkan cinta dan keluguan menjadi tameng yang kokoh untuk kebahagian kelas kita.
Semoga kita selalu selamat, dan kita tetap terikat.
Oktober 2017

Selasa, 25 Juli 2017

Keracunan Gengsi

Keracunan Gengsi
Karya : Ponco Dwi Putra


Pada dasarnya semua manusia mempunyai sifat jahat yang tertanam dalam diri, tinggal bagaimana kita mampu mengendalikannya. Termasuk bohong, bohong merupakan bagian dari sifat dasar manusia. Jujur saya sendiri sering bohong terhadap diri sendiri maupun orang lain, entah bagaimana bisa begitu mudahnya, karena bohong itu sudah di tanamkan tanpa sengaja oleh orang tua kita terdahulu sejak kita masih kecil. Mungkin kalian pernah dengar ucapan seperti ini “Jangan keluar, sekarang malam jumat. Ga boleh tidur malam-malam juga” dari point tersebut seharusnya kita bisa mengambil kesimpulan, malam jumat itu malam nya sunah rasul bagi suami istri. Jelas mereka sering mengucapkan seperti itu hanya agar supaya anak cepat tidur dan tidak menganggu malam tersebut.
Namun dalam tulisan ini kita tidak membahas tentang hal tersebut, dalam tulisan ini saya hanya menuliskan hal sederhana yang saya rasakan dengan sedikit kebohongan yang melengkapi, hanya untuk menyenangkan hati saya. Semoga bermanfaat...


21 Juli 2017, 22:30. “Mbrio Markas”

Malam itu...

Lampu menari, menyilaukan sepasang mata yang perlahan menipis. Lantunan musik khas seniman musik tanah air terdengar merdu, dia adalah Jason Ranti. Penyanyi kawakan yang mulai naik daun bagi kalangan anak muda, yang membuatnya khas, karena liriknya yang binal, dan beliau lah alasan kami pergi kesana. Kami? Ya, saya datang kesana bersama teman saya, panggil saja Borno, dan satu lagi si Tanjung, para pemuda pencari sarjana.

Pengalaman perdana datang ke tempat tersebut, hanya mengandalkan ilmu ke sotoy an di tempat yang asing seperti ini. 

Seorang waiters datang, “Silahkan, mau pesan apa dan duduk dimana?” Sapaan awal waiters tersebut.
“Kayanya nanti kita pesan sendiri aja mas, kita mau kedepan stage dulu” Jawab Tanjung diakhiri dengan senyum dan berlalu meninggalkan waiters tersebut.

Hari semakin malam, perlahan saya terbawa suasana, bernyanyi bersama dengan Jason Ranti membuat tenggorokan ini terasa kering. Kembali lah kita ke table pemesanan. Tanjung dan Borno yang memesan terlebih dahulu, “Mas bintang nya 2 ya” Tanjung membuka transaksi tersebut. Jelas dia hanya memesan 2 karena dia tau saya berusaha untuk tidak minum lagi, karena 3 tahun kita sekolah bareng, dia tau saya ingin melupakan hal seperti itu, walaupun saya juga tau mereka bukan peminum, hanya karena supaya mudah membaur dan sedikit mengurangi gengsi agar lebih percaya diri, saya sudah membaca pemikiran mereka sejak awal. Datanglah minuman tersebut, tinggal saya yang belum memesan, di daftar menu tertulis minuman yang jelas sekali saya tidak tau. 
(Ya tuhan haruskah saya meminum-minuman yang mengandung alkohol walaupun hanya sebatas golongan A yang kadarnya kecil? Karena minuman lain hanya ada aqua botol, itu tidak ada rasanya, sama sekali tidak mengobati tenggorokan ini) gerutu saya dalam hati. Lalu dengan nada guyon saya memesan...

“Mas, ini es teh manis engga ada ya?”, bartender terheran lalu menggelengkan kepalanya.
“Kalau kopi hitam?,  pertanyaan ini justru membuat bartender tertawa dan kembali menggelengkan kepalanya.
(Sial, apa mereka pikir kedua minuman tersebut tidak layak di tempat yang seperti ini? Apa minuman tersebut tidak memiliki gengsi atau nilai jual tinggi? Bangsat!) kataku dalam hati. Dengan terpaksa dan mencari aman, saya akhirnya memesan bintang juga seperti Tanjung dan Borno. Datanglah minuman berbotol hijau sedang dengan gambar bintang tepat di samping tangan, dengan harga satu botol tersebut Rp.46.000 (gila, harga yang mahal untuk minuman haram dan kecil seperti ini, apalagi untuk pemuda seperti saya yang berusaha me manage keuangan saya sendiri), mau gak mau saya harus membayarnya karena sudah di pesan. Usai sudah transaksi yang memberatkan hati saya ini, dan kembali menyaksikan Jason Ranti bernyanyi...

Bergejolak...

Dengan berat hati saya tenggak bir itu dalam keadaan kafir, tentu bukan maksud hati untuk menikmatinya, hanya saja saya selalu mensyukuri ciptaan tuhan. Entah timbul dari mana rasa bangga dalam diri, hanya saja setiap tegukan itu terasa sangat berarti, bangsat! Sialnya aku mulai tergoda.

Padahal itu yang namanya bintang, bloodymary, daiquiri, dry martini, mojito, cosmopolitan, dan apapun namanya, adalah setan! Termasuk tuak, arak bali, lapen, intisari, ciu, anggur merah, dan apapun namanya, juga setan! Itu semua adalah komplotan penghibur, yang pajaknya tinggi, dan harganya mahal, di bebankan ke konsumen. Anehnya tetap saja menjadi pilihan, kata penikmat persetan dengan pajak!

Terpaksa saya harus membohongi diri saya hanya karena sebuah gengsi, hanya karena kebudayaan konsumtif yang menimbulkan kriminalitas, hanya karena paksaan agar di terima dan meninggalkan sifat baik dalam diri. 

(Ya tuhan, hamba menyesal, walaupun hamba menikmati setiap tegukan demi tegukan, karena saat itu hamba merasa lebih tinggi dan di hargai, hamba tau itu salah, itu hanya sebuah perumpamaan yang membuat diri hamba semakin menghalalkan minuman tersebut. Hamba menyesal, hamba dengan sengaja memasukan hal yang haram kedalam tubuh hamba. Betul istilah lama yang mengatakan “penyesalan selalu datang belakangan” karena itu yang saya rasakan, tapi di balik itu saya percaya tuhan maha pengampun, tuhan juga tau kenapa atau mengapa saya melakukannya. 
Jadi percayalah tuhan akan mengampuninya asal berjanji tidak mengulanginya, termasuk kalian yang masih berkecimpung dalam dunia tersebut...

                                                                       
                                                                           ***


So guys, semoga tulisan ini ada faedahnya, yang merasa dirinya baik jika terjebak dalam keadaan seperti itu jangan malu untuk memesan yang halal saja, mengapa saya tidak demikian? Karena saya sadar saya bukan orang baik, saya pernah merasakan nakal seperti demikian, dan saat itu terdapat beberapa faktor yang membuat saya ingin melakukannya, yang paling utama adalah gengsi dan keinginan kembali mencobanya. Yakin lah, lurus kan niat, dan selebihnya saya yakin kalian akan kuat untuk melawanya.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat malam. Sekian dan terimakasih.

See you...

Jumat, 10 Maret 2017

Kepada Kesayanganku

Kepada Kesayanganku

Karya : Ponco Dwi Putra



Keke, Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja, dan aku harap kamu tidak rindu.
Sebab rindu itu berat sayang, biar aku saja yang menderita karenanya...


Maaf, aku tidak bisa pulang lebih awal. Masih banyak kewajiban yang harus aku selesaikan. Kamu tau lah tamaknya si buncit itu, jika aku tidak turuti mau makan apa kita nanti...

Aku janji akan pulang dengan bekal yang tidak sedikit, berharap kamu mengerti dan semoga itu menjadi penawar sedihmu.
Walaupun aku tidak yakin bahwa bekal yang aku bawa akan membuatmu bahagia.
Aku ingat ketika aku seperti ini dan kembali kerumah, kamu pernah bilang.
“Sayang, harta memang penting bagi kelangsungan hidup kita. Tapi yang jelas kamu harus tau, kamu lebih berharga dari itu sayang. Jadi jangan biarkan harta membuat mu menghilang dan terus menghilang” ucapan itu selalu teringat di kepalaku.

Sebab mau bagaimana lagi, jika tidak ku pinang pekerjaan ini.
Bagaimana nanti nasib si Bony dan Lotus, kedua putra kita.
Aku tak mau masa depannya kelam, lebih baik tetap kujalani pekerjaan ini.
Sebagai investasi untuk mereka berdua...


Oh iya sayang, bagaimana kabar si kembar itu? Pasti semakin menggemaskan.
Tak sabar aku ingin memeluknya dan berkata ayah pulang.
Sebab tak ada obat lelah yang teramat berarti selain mereka, dan tentu juga kamu...


Jika kamu menanyakan tentang aku? tenang, aku baik-baik saja.
Disini aku merasa nyaman, sebab disini banyak orang baik.
Dan disini aku juga punya teman dekat, namanya Pak Darmo.
Aku selalu menceritakan dirimu kepada Pak Darmo.
Dia orang yang baik dan juga murah senyum...


Aku minta maaf, aku tidak bisa menemuimu pada lebaran kali ini. Aku hanya bisa sampaikan rinduku pada Tuhan agar jaga kamu dan kedua putra kita.
Soal rumah barumu dan si kembar, sudah aku sampaikan kepada ayah agar selalu memperindah nya.
Tak lupa juga untuk merawatnya agar kamu merasa nyaman dengan si kembar...


Yang tenang disana ya sayang, jika waktunya tiba aku akan menemuimu dan si kembar.
Disana kita akan bangun keluarga kita yang sesungguhnya.
Yang abadi, dan tidak fana lagi...

Tolong kamu bacakan dengan lantang pada si kembar, biar mereka tau bahwa ayah sangat merindukannya.

Jaga baik dirimu disana ya sayang, aku sangat mencintaimu.
Joko Purnomo
Jakarta, 01-Oktober-2013...



Hanya itu yang tersisa, pesan singkat yang di tulis sendiri oleh mas Joko kepada istri dan anaknya. Semua kebahagiannya di renggut paksa karena kecerobohannya, Kejadian itu terjadi tepat di satu tahun yang lalu....


Jakarta,08-Oktober-2012


Pagi ini semua berjalan ceria. Padahal hari ini tidak ada yang istimewa, hanya hari libur pada umumnya akan tetapi mereka menyambutnya dengan sangat penuh suka cita.

Ibu menyuruhku untuk memasak dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya, ibu juga mengurangi kewajibanku seperti membersihkan rumah, hari ini tidak perlu aku lakukan. Kata ibu, ibu tidak mau melihat bi Ijah capek lagi...


*di meja makan*


“Ayah ayah ayo cepat kita baca doa, Bony tidak sabar untuk pergi ke Bioskop” Ucap putra sulungnya.
“Iya ayah Lotus juga tidak sabar ayah” Lanjut putra bungsunya.

Lalu datang si keke dari dapur...

“Ini yah, kopinya sudah aku buatkan sendiri” Kata keke.

Mas Joko hanya membalasnya dengan tersenyum lalu kami berdoa untuk memulai sarapan pagi bersama...


Selesai bersantap dan semua keperluan sudah beres, kami pun berangkat ke tempat tersebut...


Di dalam perjalanan mereka sangat antusias. Terutama si kembar, mereka terlihat bersemangat sekali sampai aku kewalahan bermain-main dengannya. Ini benar-benar aneh biasanya mereka hanya bertengkar sampai salah satunya menangis lalu tertidur. Begitu juga Keke, dia selalu menggenggam erat tangan Mas Joko biasanya mereka hanya asik berbincang-bincang saja sambil mengamati jalan...


*di pintu perlintasan Rel Kereta Api*


Palang perlahan menutup dengan sirine yang berbunyi keras, kondisi jalanan macet.

“Jangan di paksa mas, lebih baik kita menunggu. Di depan pun masih macet” Ucap keke, tapi mas Joko tetap memaksa masuk karena melihat kereta masih jauh...

Lama menunggu, kendaraan di depan masih belum jalan. Sampai keretanya mulai terlihat dari kejauhan, mas Joko dan keluarganya masih terjebak di tengah perlintasan Rel KA. Klakson kereta terdengar keras, suara orang di luar mobil beserta klakson kendaraan lainnya pun saling bersahutan, semua terlihat kacau dan panik. Saat mobil di depan mas Joko sudah jalan, tiba-tiba mobil mas Joko mati, tidak bisa di nyalakan lagi, di starter berulang-ulang pun masih tidak nyala juga. Semua terlihat semakin panik, lalu mas Joko berteriak untuk bergegas keluar, akan tetapi semua sudah terlambat....

“BRAAAAAAAKKKK!!!!”
Keras sekali suara mobil terhantam, semua terlihat kacau dan perlahan penglihatan ku menjadi gelap dan tidak sadarkan diri...


Hanya peristiwa itu lah yang dapat ku ingat, kepalaku terasa sakit setiap mengingatnya.

Semenjak peristiwa itu Mas Joko mengalami depresi berat dan harus dirawat di RSJ Dr. Soeharto Heerjan kurang lebih 3 bulan sebelum dia menyusul keluarga kecilnya. Yang aku tau semenjak peristiwa tersebut mas Joko hanya bisa memandangi foto keluarga mereka sambil menangis karena istri dan anak-anaknya harus meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Semuanya meninggal, hanya aku dan mas Joko yang selamat atas insiden tersebut...


Kini kedua orang tua mas Joko sangat terpukul sepeninggal kedua cucu dan juga menantunya, lalu di susul oleh kehilangan sang anak semata wayang tercintanya, begitu juga dengan kedua orang tua keke. Semenjak mas Joko masuk RSJ, aku bekerja untuk orang tua mas Joko...


TAMAT!!!


Senin, 20 Februari 2017

Sapu Tangan Merah

Sapu Tangan Merah

Karya : Ponco Dwi Putra



“Ayo ayo Tegal,Tegal,Tegal. Langsung jalan tinggal 2 lagi. Ayo ayo...”
“Slawi,Slawi,Slawi...”
“Malang,Malang,Malang... Ayo malang masih muat masih muat”
Para kondektur saling berlomba menjajahkan jasanya.

Secangkir susu panas di sudut warung menemani saya menikmati pemandangan ini, sangat ramai dan juga bising. Semua orang terlihat sangat antusias, alasan mereka tentu karena rindu kampung halaman. Begitu juga saya, yang merupakan bagian dari mereka atau biasa disebut pemudik.

Habis sudah susu itu saya tenggak, lalu saya menukarnya dengan selembar uang kertas Lima Ribu an, dan saya beranjak mencari alat transportasi untuk membawaku ke tempat tujuan.

Tiba lah saya di mobil yang penumpangnya masih belum terlalu ramai, lalu saya duduk di bangku dengan nomor yang tertera di tiket. Sembari menunggu saya membuka handphone, hanya untuk memberi informasi agar keluarga saya tidak cemas.

Sekiranya 10 menit berlalu, mesin mobil mulai menyala. Padahal kursi-kursi masih lumayan yang kosong, hampir 20% dari jumlah kursi di bus. Perlahan mobil ini jalan dengan membunyikan klakson, seraya ucapan perpisahan pada terminal dan seisinya.

Perjalanan ini terasa sangat membosankan, sebab di malam hari tak banyak yang bisa di nikmati, ya seperti padi menguning atau senyum sumringah para petani, karena setiap lebaran tiba biasanya hasil panen yang di garap selalu menuai hasil maksimal.

Selang beberapa menit dari terminal, mobil ini berhenti. Saya pikir sudah sampai tempat istirahat, ternyata hanya untuk menaikan penumpang yang menunggu di pinggir jalan. Namun, di saat saya hendak tidur, saya justru tidak bisa. Ketika seorang wanita yang parasnya sederhana bak kembang desa duduk sejajar dengan saya, nafasnya tersengal-sengal dengan keringat yang membahasi keningnya. Lalu aku memberanikan diri dengan menyapanya...

“Mbak, kenapa nafasnya tersengal?” tanyaku.
“Eh anu mas, tadi bawaan ku berat. Dan buru-buru ngejar bis” sahut mbak ini yang belum aku tahu namanya.
“Mbak bawa minum? Kalau tidak minum saja punya saya, saya baru beli tadi” lanjut aku.
“Terima kasih mas, aku bawa ko” sahut mbak tersebut lalu menyekah keringat dengan sapu tangan
“Kenalin mba nama saya Lotus Merah, mba boleh panggil saya Lotus” menjulurkan tangan
“Nama aku Dwi Senja Melati, panggil saja Dwi” bersalaman...
Lama kami berbincang, ngalor ngidul (kesana-kemari) saling memuji satu sama lain. Lalu saya ambil kesimpulan, mbak Dwi ini tujuannya ke cirebon, sedangkan saya ke brebes, dan mbak Dwi ini juga merantau ke Jakarta sama seperti saya.

Asik kita berbincang, tak terasa sudah sampai Cirebon, jalanan terlihat renggang karena masih H-7 lebaran, jadi cepat sampainya.
“Aku turun duluan ya mas, semoga kita berjumpa lagi”
Aku hanya tersenyum dan kami bersalaman dan menutupi kekecewaan ku karena pertemuan ini terlalu singkat. Lalu Mutiara melambaikan tangannya ke arah ku.

Di dalam perjalanan aku hanya menyesali sambil tertunduk, bodoh sekali aku tidak meminta nomornya atau id pengenal lainnya. Sempat terbesit di benak ku untuk kembali dan menghampirinya, namun sudah begitu jauh, dan pasti Dwi sudah beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba handphone ku jatuh dari saku, karena kondisi gelap aku hanya meraba. Namun yang kudapati justru handphone dengan sapu tangan berwarna merah yang tadi di pakai Dwi untuk mengelap keringatnya. Okelah, aku pikir ini sebagai cendramata untuk penawar kekecewaan akan pertemuan yang singkat ini. Biar aku simpan dan akan aku kembalikan jika memang kita bersua lagi...


Cirebon-Brebes
Sapu Tangan Merah



                                                                                                          Jakarta,01-September-2016

Si Pitung

Si Pitung
Legenda Asli Betawi




Jika bicara tentang Legenda Betawi, pasti Si Pitung ini merupakan hal yang wajib ada di dalamnya. Kisah yang melekat dengan watak asli betawi ini sudah menjadi pembicaraan baik dari mulut ke mulut atau malah sudah menjadi buku cerita. Bahkan tak hanya dalam bentuk buku, cerita Si Pitungini sudah di dokumentasikan menjadi film berjudul Si Pitung. Walaupun kebenaran cerita si Pitung mungkin sudah agak berbeda dengan cerita aslinya, namun fakta sejarah mengatakan banyak peninggalan si Pitung yang masih ada dan dilestarikan sampai saat ini. Jika adik-adik ingin tahu lebih lanjut mengenai dongeng si Pitung dapat datang ke Daerah Rawa Belong, disana masih ada peninggalan si Pitung berupa rumah dan goloknya yang terkenal. Baik, sekarang kita masuk ke bagian cerita.

Selamat Membaca....

Si Pitung

Tersebutlah seorang pemuda gagah serta pemberani yang tinggal di daerah Rawa Belong pada zaman dahulu. Pitung nama pemuda gagah itu. Sejak kecil si Pitung telah belajar agama dan juga belajar silat dari Haji Naipin. Semakin bertambah usianya, kemampuan dalam soal agama dan kepiawaiannya bermain silat semakin tinggi. Pada zaman itu sulit dicari orang yang dapat menandingi kemampuan si Pitung dalam ilmu beladiri. Selain mengaji dan beladiri, si Pitung pun dibekali dengan berbagai kesaktian. Salah satu kehebatan yang membuat lawan tarungnya bertekuk lutut adalah tubuh si Pitung kebal terhadap senjata apapun. Bukan hanya senjata tajam yang tidak dapat melukai tubuhnya, pelurupun mental tidak mempan jiga bersentuhan dengan tubuhnya. Si Pitung menjadi pendekar yang disegani kawan dan ditakuti lawan.
Selain dikenal sebagai orang ahli mengaji dan pandai bermain silat, si Pitung juga dikenal sebagai orang berakhlak baik, pemberani dan selalu membela yang lemah teraniaya. Maka, betapa marah dan gusarnya dia ketika melihat kesewenang-wenangan Kompeni Belanda memperlakukan rakyat Betawi. Begitu juga dia marah terhadap para tauke (Majikan) dan juga tuan-tuan tanah yang hidup senang karena memeras rakyat. Rakyat Betawi yang miskin tambah miskin dan menderita.
Si Pitung tidak bisa membiarkan kejadian menyedihkan itu kian berlarut-larut. Dia merasa harus melakukan sesuatu demi memperbaiki rakyat disekitarnya. Dia juga ingin meberi pelajaran keras terhadap kompeni, Para takue dan para tuan tanah. Langkah pertama yang dia lakukan adalah mencari orang-orang yang sependirian dengannya. Dua orang sahabatnya Rais dan Ji’i, ternyata juga sepaham dengannya. Mereka pun menggagas tindakan untuk menolong rakyat miskin.
Si Pitung, Rais dan Ji’i melakukan perampokan terhadap tauke dan tuan-tuan tanah kaya yang berpihak pada kompen Belanda. Hasil rampokannya itu lalu dibagikan kepada rakyat miskin. Rakyat miskin dan mereka yang tertindas serta teraniaya amat berterima kasih mendapat bantuan dari Pitung dan teman-temannya. Namun demikian, sepak terjang si Pitung sangat meresahkan para Tauke dan Para tuan tanah.
Untuk menghadapi aksi perampokan Si Pitung, Para tauke dan tuan-tuan tanah lantas menyewa centeng-centeng atau tukang pukul bayaran. Mereka mencari para centeng yang dikenal mempunyai kemampuan silat tingkat tinggi dan bersedia membayar tinggi jika para centeng itu mampu menjaga harta benda mereka agar tidak dirampok. Mereka mencari hingga kedaerah-daerah yang jauh. Meski demikian, para centeng yang terkenal mempunyai kemampuan silat tinggi itu tidak berdaya juga menghadapi si Pitung dan kawan-kawannya. Harta kekayan para tauike dan Para tuan tanah jahat itu tidak mampu mereka jaga.
Para tauke dan tuan tanah akhirnya melaporkan kejadian yang mereka alami itu kepada pemerintaha Kompeni Belanda. Pemerintah Kompeni Belanda lantas mengirimkan pasukan bersenjata untuk memburu si Pitung. Akan tetapi menangkap si Pitung dan kawan-kawannya bukanlah perkara mudah. Selain serangan-serangan mendadaknya sangat merugikan pasukan Belanda, rakyat pun membantu perlindungan bagi pitung dan kawan-kawan sehingga sulit ditemukan.
Pemerintah Kompeni Belanda lalu menerapkan siasat lain. Mereka menyatakan.” Siapa saja yang bersedia memberikan keterangan perihal dimana keberadaan si Pitung akan diberikan hadiah yang sangat besar.”
Iming-iming hadiah besar itu tidak menarik minat rakyat Betawi, terutama mereka yang miskin, menderita dan teraniaya. Selama itu mereka telah mendapatkan berbagai bantuan dari si Pitung dan kawan-kawan, tentui saja mereka tidak bersedia membantu pemerintahan Kompeni belanda. Si Pitung dan kawan-kawannya merupakan pahlawan bagi rakyat miskin dan tertindas. Bagaimana mungkin mereka bersedia membantu pemerintah kompeni Belanda yang menjajah dan membuat kehidupan mereka menjadi menderita. Meskipun sebagian dari mereka disiksa pemerintah kompeni Belanda untuk menunjukan keberadaan si Pitung, tetap saja mereka enggan menyebutkannya.
Sementara Pemerintah Kompeni Belanda tersu disibukan mencari keberadaan si Pitung. Si Pitung dan kawan-kawan terus melakukan aksi mereka. Mereka melakukan perampokan dengan target Para Tauke dan Para Tuan tanah kejam dan jahat. Hasil rampokannya tetap mereka bagikan kepada rakyat miskin yang mebutuhkan.
Apa yang harus dilakukan pemerintah belanda?
Seperti yang dilakukan di daerah-daerah lain di Indonesia, pemerintah Kompeni Belanda melakukan siasat licik. Mereka menangkap orang tua si Pitung dan memenjarakannya. Selain itu mereka menangkap Haji Naipin dan memenjarakannya. Mereka menyiksa orang tua si Pitung dan Haji Naipin agar bersedia memberitahu keberadaan si Pitung dan rahasia kesaktian terutama ilmu kebalnya.
Betapa kejinya mereka menyiksa kedua orang tua si Pitung dan juga Haji Naipin dengan siksaan yang melewati batas-batas kemanusiaan. Tidak tahan dengan siksaan yang sangat pedih itu, orang tua si Pitung akhirnya memberitahu dimana si Pitung dan kawan-kawannya bersembunyi. Haji Naipin yang sangat menderita karena siksaan yang dialaminya akhirnya juga memberitahu rahasia kesaktian si Pitung.” Jika tubuh si Pitung terkena telur busuk, maka kekebalan tubuhnya akan menghilang.”
Pemerintah Kompeni Belanda lantas mengirimkan pasukan bersenjata yang lebih besar jumlahnya untuk menangkap si Pitung dan kawan-kawan di tempat persembunyian mereka. Pasukan yang lengkap bersenjata itu juga membawa banyak telur busuk untuk menghilangkan kekebalan tubuh si Pitung.
Pertarungan yang sengit terjadi di daerah yang menjadi tempat persembunyian si Pitung. Semula si Pitung dan kawan-kawannya masih mampu merepotkan pasukan bersenjata Kompeni Belanda itu. Amukan mereka mampu menimbulkan banyak korban di pihak pasukan bersenjata. Hingga pasukan bersenjata itu melempari tubuh si Pitung dengan telur-telur busuk sebelum menghujaninya dengan tembakan.
Si Pitung, pahlawan besar Betawi pembela kebenaran itu, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya terkena tembakan-tembakan. Si Pitung meninggal dunia sebagai pembela rakyat miskin dan tertindas akibat kekejaman dan kesewenang-wenangan penjajah.
"Pesan Moralnya adalah kita harus saling tolong menolong, yang kuat membantu yang lemah. Karena yang kuat bukan berarti harus menjajah yang lemah. Orang akan di katakan hebat jika kelebihannya di gunakan untuk kebaikan"

Selasa, 17 Januari 2017

Ayahku Di Bunuh Pekerjaan-nya

AYAHKU DI BUNUH PEKERJAAN-NYA
Karya : Ponco Dwi Putra 



“Bangun, cepat berangkat!” 
“Iya bu...” 
Tak ada percakapan hangat di pagi hari ini, Jarang sekali Ibu berbicara selugas itu... 

*Di meja makan* 

“Bu, ibu kenapa, ibu tampak marah, ibu marah sama aku?” 
“Engga, ibu tidak kenapa-napa. Cepat habiskan lalu berangkat” 
“Baik bu. Oh iya, ayah kapan pulang aku rindu ayah” 
Ibu hanya menantap ku, lalu beranjak pergi dari ruang makan... 

“Aku berangkat bu” 
Ibu ku hanya menjawab iya tanpa menoleh ke arah ku... 

Dalam perjalanan pikiranku berkecambuk, ada apa dengan ibu? Mengapa ibu menjadi seperti ini, apa ibu marah kepadaku? Entahlah. Aku sering merasa iri ketika melihat teman sekolah ku di jemput ayah atau ibunya, mereka terlihat sangat bahagia terlihat dari senyum mereka yang sumringah. 
Sesekali aku berangan-angan hal itu terjadi pada diriku walau hanya sebuah angan-angan tapi aku selalu menikmatinya, setidaknya sedikit mengobati rindu terhadap keluargaku yang tidak lagi utuh... 

*Sampai dirumah, aku melihat ibu sedang berleha-leha dengan tv nya* 

“Bu, Lotus pulang” Teriaku lantang 
“Iya Lotus” Sahut ibuku dengan nada ramah. 
Aku berpikir sepertinya ibu sudah tidak marah lagi padaku, terdengar dari suaranya yang seperti itu. 

“Lotus, sini nak ibu mau berbicara” *Teriak ibu*
“Sebentar bu, aku ganti baju dulu” 
“Tidak usah nak, ibu mau bicara penting” 
Dengan perasaan dongkol aku menghampiri ibu. 

“Duduk nak”
 Aku duduk di sebrang ibu dengan saling menatap. 

“Nak, kita harus pindah rumah. Di rumah ini sudah tidak aman” 
“Maksud ibu rumah kita kemalingan?” 
“Tadi ayah telepon ibu, kata ayah kita harus pindah ke tempat yang sudah disediakan” 
“Ayah telepon ibu? Aku mau bicara sama ayah aku rindu sama ayah. Sudah lama aku tidak melihatnya” 
“Kalau kamu ingin bertemu ayah, berkemas lah. Lalu nanti malam kamu tunggu dia disini” 
“Jika memang bertemu ayah, pasti aku lakukan” 
“Yasudah kamu mandi, makan,lalu siapkan barang-barangmu” 
Aku menyelesaikan kewajibanku dan segera mengemas barang-barang ku... 

Lama aku menunggu ayah, sampai mata ku terkantuk dan perut mulai bersuara, tapi aku lawan semua itu demi ayah.,.
Sampai akhirnya sebuah tinju melayang ke lenganku, tidak terlalu keras hanya seperti sapaan. 

“Kamu sudah besar Lotus, kamu juga semakin tampan seperti ayah” 
“Bapak ini, siapa? Bu, ini ada tamu.” 
Aku berlari ke kamar ibu, memang aku tidak boleh berbicara dengan orang yang belum di kenal, ibu selalu menyuruh aku seperti itu apalagi sampai ada orang yang menanyakan tentang ayahku. Lalu ibu keluar dengan membawa tas-tas bawaanya. 

“Kamu udah sampai mas?” 
“Iya, baru sampai. Lotus sini” Aku melirik ke ibu sambil tangan ku erat memeluknya. 
“Sana nak, kamu bilang ingin bertemu ayah” 
“Apakah kamu ayah saya? Ko ayah terlihat awur-awuran?” 
“Iya nak, papa sibuk kerja sampai lupa potong rambut” 
“Ayah kerja apa? Sampai lupa pulang kerumah?” 
“Ayah berjualan nak, dan berjualanya itu harus sembunyi-sembunyi” 
“Kenapa harus sembunyi yah? Kan ayah hanya berjualan?"
“Hust sudah-sudah ayuk berangkat, mencari penyakit saja” Ibu memotong pembicaraan kami. 
“Berangkat kemana bu? Kan besok aku sekolah?” 
“Iya kamu besok sekolah nak, kita hanya pindah rumah yang dekat sana” 
“Keke (Nama ibu ku), ini uang buat jajan si Lotus. Kalau soal kontrakan sama uang makan biar aku yang urus, nanti aku transfer. Aku pergi dulu ya ke, itu aku sudah sewakan mobil buat mengantarmu ke rumah yang baru, dan kamu Lotus, Ayah sayang kamu. Kamu harus jadi lelaki perkasa ya dan jaga Ibu kamu. Papa harus pergi dari sini, papa takut kalian terancam” 
Ayah mencium kening Ibu dan aku, lalu pergi meninggalkan kami berdua di tengah malam yang gelap...

 “Ayah mau pergi kemana lagi? Ayah mau meninggalkan kami lagi? Ayah sudah enggak sayang sama kami?” Ayah hanya tersenyum lalu melambaikan tangan, dan beranjak pergi menuju gelapnya malam.  “Bu, apakah ayah sudah tidak sayang sama kita? Kenapa ayah pergi lagi bu?” 
“Ayah sayang sama kita nak, ayah ga mau kita terancam. Ayah pergi karena ingin berjualan lagi” Jawab ibu, dan meneteskan air matanya, lalu aku menengok ke arah ayah, ternyata sudah hilang di telan ke gelapan...

Berangkatlah kami kerumah yang baru, dekat sekali dengan sekolahan aku,hanya 5 menit aku sudah sampai tujuan. 
 “Istirahat nak, besok kamu sekolah, baju kamu di taruh situ saja nanti ibu yang bereskan” 
“Baik bu” 

Entah kenapa setiap kami pindah rumah, rumah kami sudah terisi barang-barang yang baru dan bagus. Seperti kasur, Lemari, Tv, dan alat-alat lainya. 

 Keesokan paginya. 

 “Bangun nak, sekolah” 
“Baik bu” 

 *Di meja makan* 

 “Bu, barang-barang ini siapa yang belikan? Lalu bagaimana barang-barang yang dirumah lama? Kan masih bagus juga?” “Ini semua ayah yang belikan, barang-barang lama di beri ke pumulung, kata ayah biar saling membantu sesama” 
“Ayah baik juga ya bu,walau penampilanya terlihat seperti preman” 
Ibu hanya tersenyum dan merapikan meja makan. 
“Berangkat nak” 
“Baik bu” 

Di sekolah semua berjalan semestinya, tak ada yang aneh menurutku. Namun, saat pelajaran olahraga, ibuku datang ke sekolah dan menungguku di loby sekolah. Tangannya melambai, mengisyaratkan agar aku menghampirinya. Lalu aku mengiyakan dan menghampirinya... 

“Ada apa bu? Ko ibu terlihat pucat?” 
“Cepat nak, kamu ambil tasmu dan berkemas” 
“Baik bu” 
Lalu ibu menarik tangan ku keluar sekolah tanpa izin guru ataupun wali kelas ku, pak satpam hanya mengangguk karena percaya aku di jemput ibu karena urusan penting...

Sampai di rumah ibu mengunci pintu dan jendela serta menutup ordengnya, semua lampu dimatikan, termasuk handphone ibu. 
“Ada apa bu?” 
“Hust, kamu diam. Jangan menimbulkan suara dalam sehari ini” 
“Baik bu” 

Ibu dan aku duduk di kamar, tangan ibu kuat menggenggam tanganku. Mulut ibu komat-kamit, sepertinya ibu sedang membacakan doa. Aku hanya terdiam dan tidak mengerti keadaan ini. Lalu di luar terlihat bayangan yang sedang mengintip dari kaca ke arah dalam, kami melihatnya dari sela pintu kamar yang tidak tertutup sepenuhnya, karena di luar masih siang jadi terlihat bayangan hitam dari dalam. Tangan ibu semakin kuat menggenggam tanganku, mulut ibu membisu dan tangan satunya mendekap mulutku. 

“Dor,dor,dor. Buka pintunya, kami tau ada orang di dalam. Buka pintunya!” Terdengan suara dari luar dengan keras, seperti orang yang sedang marah. 
“Dor,dor,dor. Buka pintunya, atau kami dobrak!” Suara orang tersebut semakin keras. 
Ibu semakin panik, lalu ibu menutup pintu kamar dan menguncinya. 

“Braaaak!” Terdengar suara pintu terbanting dari luar kamar. Ibu menyuruhku bersembunyi di lemari, sedangkan ibu pura-pura tidur di kasur sambil memasang headset nya. Terlihat dari luar rombongan orang masuk kerumah kami, dan menyalakan lampu-lampu. 
“Buka pintunya” Teriak dari luar. Ibuku terlihat pucat, lalu ibu menyalakan lampu dan menoleh ke lemari, ke arah ku,dan menyuruhku keluar dari lemari tersebut, aku dapat melihatnya dari sela pintu lemari ini. 

Ibu membuka pintu kamarnya. 
“Ada apa ini pak? Kenapa rumah saya di acak-acak?” 
“Selamat siang bu, kami dari kepolisian ingin memeriksa rumah ibu, sebab rumah ini di curigakan menyimpan sesuatu.” 
“Maksud bapak menyimpan apa?” 
“Coba, tolong dibuka topengnya bapak itu"*orang itu menyuruh temannya yang membawa orang dengan kepala tertutup. 
"Ibu kenal dengan orang itu (pak polisi menunjuk kedepan kearah orang yang sedang di borgol)” 

Dan ternyata itu ayah. 
“Ayaaah!” Aku langsung berlari ke arah ayah, sedangkan ibu hanya menangis dan beranjak keluar dari rumah. 
“Ayah, ayah kenapa di ikat? Ayah, Lotus sayang ayah” 
“Maafin ayah nak” Ayah menatap ku sekejap lalu kembali tertunduk. 

Lalu seorang polisi mengangkat ku dan menghampiri ibu ku yang berada di luar rumah sambil menangis. 

 “Bu ayah kenapa? Kenapa ayah di perlakukan seperti itu” Ibu ku hanya memeluku erat sekali sambil menagis. Lalu para polisi itu pergi meninggalkan rumah kami yang sudah berantakan. Dan salah satu seorang polisi menghampiri ibu ku. 
“Bu, disini tidak ada barang bukti, tapi suami Ibu tetap kami bawa karena telah mebawa narkoba sejenis shabu seberat 5kg,terima kasih bu atasa kerjasamanya" ibu hanya tertunduk

Lalu ibu beranjak ke ruang tamu dan menyalakan televisi, di acara berita tersebut menyiarkan bahwa,
“Gembong narkoba tertangkap atas nama Nurdin atau biasa di panggil Baba yang membawa shabu seberat 5kg dan terancam hukuman mati” 
Disitu ibu ku tertunduk seperti menyesali keadaan, dan disitu aku mulai mengerti bahwa pekerjaan ayahku adalah penjual narkoba. Namanya sama dengan yang di televisi yaitu Nurdin biasa di panggil Baba. Aku mentap ibu yang sedang menangis, tidak lain tidak bukan karena ayah akan di vonis hukuman mati. 

 Jakarta,04-September-2016