Sabtu, 28 Oktober 2017

Sarapan Pagi

Sarapan Pagi

Ponco Dwi Putra


Ibu saya menyuguhkan sesajen pagi,
Dengan sedikit ambisi dan arogansi

Di balut kopi, dengan 2 buah gorengan pisang.

Saya akumulasikan marah,
Dan tetap menjadi pribadi yang ramah.

Oh Dosen Oh Mahasiwa

Oh Dosen Oh Mahasiswa

Ponco Dwi Putra


Dosen ketua.
Mahasiswa anggota.
Pemikiran dosen ortodoks.
Hidung mahasiswa seperti di cocok's.

Dosen sederhana.
Mahasiswa temanya.
Pemikiran dosen seiras.
Hidup mahasiswa tetap waras.

Dosen aneh.
Mahasiswa malah terkekeh.
Pemikiran dosen arogan.
Mahasiswanya malah sungkan.

Oh Dosen Oh Mahasiswa
Oh Mahasiwa Oh Dosen

Fatamorgana

Fatamorgana

Ponco Dwi Putra


Hari menjelang petang.
Pukul 16:00 waktu indonesia bagian barat.
Taman yang tak jauh dari rumah.

Di antara ramainya orang dengan kesibukannya,
Saya bersila di atas ukiran semen yang di hiasi coretan nakal dan barisan semut merah,
Di temani buku berjudul Hope - Kick Andy.

Lalu perhatianku terganggu...
Ketika ku lihat ke arah barat, 
Sekumpulan anak muda paruh baya asik bermain bola.
Sesekali ada yang terjatuh, bertengkar kecil saling membela, lalu bermain lagi.
Cerminan sepak bola, selalu ada drama yang menghiasi.

Ketika ku lihat ke arah selatan,
Sepasang muda-mudi berseragam,
Memadu kasih di bawah pohon yang rindang,
Aku menilisik lebih dalam, tepatnya aku mengawasi.
Aku takut taman ini menjadi wadah bibit-bibit kejahatan bersemi.

Hari menjelang malam,
Perut sudah tidak dapat berkompromi,
Aku pergi meninggalkan pesan,
"Yang terhormat pasukan semut, jangan sampai taman ini menjadi tempat prostitusi. Amati dia semut merah, kalau perlu dengan tatapan marah."


Menara Keriduan

Menara Kerinduan

Ponco Dwi Putra


Sejujurnya, hakikat rindu itu seperti apa?
Mengapa rasa rindu itu di ciptakan? Jika rindu hanya membuat manusianya mendayu-dayu.

Ingin aku mendekap gunung, apa dayaku gununya malah meletus.
Ingin aku rebahan di laut, apa dayaku lautnya malah tsunami.
Ingin aku mencium tanah, apa dayaku tanahnya malah gempa bumi.
Ingin aku memelukmu, apa dayaku wudhu menjaga ku agar tetap tawadhu.

Jangan-jangan saya memang tidak pantas untuk melepas rindu, walau hanya untuk beberapa saat.

Dengan kereta adzan yang berkumandang, dan di sudut bangunan dengan lantai yang dingin.
Telah ku tulis rindu ini yang tak pernah bertepi...

Oktober 2017, Student Center

Sepucuk Surat Untuk Kampusku

Sepucuk Surat Untuk Kampusku

Ponco Dwi Putra

Di kampusku...
Banyak orang-orang sibuk membaca buku,
Banyak orang-orang sibuk menuntut ilmu,
Sampai-sampai lupa akan hakikat waktu.
Di kampusku...
Banyak orang-orang yang berargument merasa dirinya yang paling keren,
Banyak orang-orang yang berdebat merasa dirinya yang paling bermartabat,
Sampai-sampai nama tuhan ikut terlibat dan agama menjadi alat.
Di kampusku...
Banyak orang-orang lugu yang sok tau,
Banyak orang-orang awam yang sok suci,
Sampai-sampai memaksakan penafsiran orang lain dan mencaci maki orang yang mengerti.
Di kampusku...
Banyak orang-orang yang berbakat,
Banyak orang-orang yang tersesat,
Sampai-sampai banyak terjadi tipu muslihat.
"Sorak-sorak bergembira"
Lalu, di kelasku...
Banyak cinta yang tersaji,
Banyak juga benci yang menghasuti,
Sampai-sampai ada yang cinta lalu membenci.
Sejujurnya, aku suka dengan keluguanmu.
Namun bukan berarti kamu serba tidak tau.
Kita sudah dewasa, jangan mau di perdaya, apalagi kita mahasiswa.
Pemikiran kita harus kritis dan logis.
Biarkan cinta dan keluguan menjadi tameng yang kokoh untuk kebahagian kelas kita.
Semoga kita selalu selamat, dan kita tetap terikat.
Oktober 2017