Bingung Kasih Judul
April 2018
Temaram rembulan.
Aku tersudut, diantara rentetan kendaraan.
Kendaraan satu, kendaraan dua, kendaraan tua, kendaraan muda, ah sama saja, sama-sama produksi polusi udara.
Dibawah lampu taman, 4 butir, bercahaya.
Aku bersila, bersedekap, diantara daun-daun yang gugur, diantara tumpukan bata, diantara gaduh ganjil para muda-mudi zaman dengan pakaian yang aduhai memanah tatapan.
Aku tertunduk lalu menyebut (tapi bohong).
Dilihat dosa, tak dilihat sayang.
Aku tak mau kalah, celana jeans barat dihiasi robekan-robekan di paha dengan gaya boogie, menyelaraskan kemeja pantai kembaran bapak, aku bergaya tua.
Suara bising, waktu berlarut dianggap asing.
Aku terjamah oleh angin malam, oleh celoteh muda-mudi, oleh lagu yang membisu, oleh kelenteng tukang cilok.
Gambaran sederhana bulungan di malam hari.
Tepat di toko kopi sederhana, tempat muda mudi memadu rasa, rasa apa? Rasa tembelek.
Lagu-lagu old metropolitan terus berkumandang, nadanya aneh kearah kontemporer.
Aneh bukan? Seaneh dan sesotoy ketika aku menulis ini.
Namun sesekali lantunan beatles menyeruak, menyuarakan kedamaian, "if i feel in love with you".
Kembali ke diri, diri yang masih duduk diantara rimbunan ego, diantara rimbunan gengsi, diantara manusia yang saling meninggikan diri dengan perkembangannya.
Namun aku tetap tenang, tidak ingin sombong. Walaupun kopi ku mahal, tidak seperti kopimu yang sasetan, aku tetap tenang.
Nyatanya itu gratis, rayuan dari kawan, dengan syarat masuk kedalam lingkarannya, lingkaran kawan-kawan lamanya.
Ngomong-ngomong kopiku datang, diantar pramusaji berparas ambon yang tak luput beatles seragamnya.
Agak serem, tapi cemen, celananya engga sobek, namanya juga anak zaman (saling merendahkan).
Namun yang menyayat hati, di tengah perputaran uang para kaum-kaum pemilik modal, terdapat 2 orang penyanyi jalanan.
Aku gambarkan satu umur anak sd, satu umur anak sma dengan tatto dilengan, dengan pakaian lusuh, wajah lusuh, seperti belum makan, seperti banyak pikiran.
Sebetulnya baik, karena menjadi lahan untuk mereka, namun yang disayangkan rasa iba dari kawula muda-mudi yang masih tipis.
Lebih bangga dengan memberi kepada kaum yang punya, ketimbang kaum yang minta-minta. Pemandangan jahat, pemandangan yang tak luput dari kesedihan.
Terus berlanjut sampai malam berlarut.
Malam berganti pagi, jam berganti dini hari.
Makin malam makin tak jelas, semerawut.
Kusudahi saja celoteh ini, ditemani lagu the beatles "rock n roll music, if you wanna dance with me?"
Se u ma prenn, love and peace.
Join Coffe...
April 2018
Temaram rembulan.
Aku tersudut, diantara rentetan kendaraan.
Kendaraan satu, kendaraan dua, kendaraan tua, kendaraan muda, ah sama saja, sama-sama produksi polusi udara.
Dibawah lampu taman, 4 butir, bercahaya.
Aku bersila, bersedekap, diantara daun-daun yang gugur, diantara tumpukan bata, diantara gaduh ganjil para muda-mudi zaman dengan pakaian yang aduhai memanah tatapan.
Aku tertunduk lalu menyebut (tapi bohong).
Dilihat dosa, tak dilihat sayang.
Aku tak mau kalah, celana jeans barat dihiasi robekan-robekan di paha dengan gaya boogie, menyelaraskan kemeja pantai kembaran bapak, aku bergaya tua.
Suara bising, waktu berlarut dianggap asing.
Aku terjamah oleh angin malam, oleh celoteh muda-mudi, oleh lagu yang membisu, oleh kelenteng tukang cilok.
Gambaran sederhana bulungan di malam hari.
Tepat di toko kopi sederhana, tempat muda mudi memadu rasa, rasa apa? Rasa tembelek.
Lagu-lagu old metropolitan terus berkumandang, nadanya aneh kearah kontemporer.
Aneh bukan? Seaneh dan sesotoy ketika aku menulis ini.
Namun sesekali lantunan beatles menyeruak, menyuarakan kedamaian, "if i feel in love with you".
Kembali ke diri, diri yang masih duduk diantara rimbunan ego, diantara rimbunan gengsi, diantara manusia yang saling meninggikan diri dengan perkembangannya.
Namun aku tetap tenang, tidak ingin sombong. Walaupun kopi ku mahal, tidak seperti kopimu yang sasetan, aku tetap tenang.
Nyatanya itu gratis, rayuan dari kawan, dengan syarat masuk kedalam lingkarannya, lingkaran kawan-kawan lamanya.
Ngomong-ngomong kopiku datang, diantar pramusaji berparas ambon yang tak luput beatles seragamnya.
Agak serem, tapi cemen, celananya engga sobek, namanya juga anak zaman (saling merendahkan).
Namun yang menyayat hati, di tengah perputaran uang para kaum-kaum pemilik modal, terdapat 2 orang penyanyi jalanan.
Aku gambarkan satu umur anak sd, satu umur anak sma dengan tatto dilengan, dengan pakaian lusuh, wajah lusuh, seperti belum makan, seperti banyak pikiran.
Sebetulnya baik, karena menjadi lahan untuk mereka, namun yang disayangkan rasa iba dari kawula muda-mudi yang masih tipis.
Lebih bangga dengan memberi kepada kaum yang punya, ketimbang kaum yang minta-minta. Pemandangan jahat, pemandangan yang tak luput dari kesedihan.
Terus berlanjut sampai malam berlarut.
Malam berganti pagi, jam berganti dini hari.
Makin malam makin tak jelas, semerawut.
Kusudahi saja celoteh ini, ditemani lagu the beatles "rock n roll music, if you wanna dance with me?"
Se u ma prenn, love and peace.
Join Coffe...