Jumat, 5 februari 2016. "01:22"
Hari ini aku mendapat pelajar lagi.
Ketika kamar ini disinggahi beberapa teman lama.
Namun beda gaya dan juga tingkah lakunya.
Memang, kali ini aku sengaja mengundang mereka yang masih mencari jati diri lewat pergaulan, yaitu lewat tingkah dan kelakuannya. Karena menurut mereka semakin menjual omogan semakin tinggi martabat dirinya. Dan dengan cara itu teman kita seolah di buat kagum oleh cerita hidupnya.
Padahal mereka sadar akan perbuatanya yang berimbas terhadap financial/keuangan keluarganya.
"lalu kami terduduk di ruangan yang sama, setelah basa-basi selayaknya teman yang berjumpa seperti biasanya"
Hal yang pertama mereka lakukan yaitu mengecek handphonenya. *10 menit berlalu dengan hening*
Lalu aku mencoba membuka obrolan yang memecahkan keheningan, dengan menanyakan hal-hal yang memancing mereka untuk pencitraan atas pergaulannya.
Dan ini lah yang aku tunggu, mereka mulai menggembor-gemborkan cerita yang sekiranya mereka fikir bisa mengangkat harga diri di depan teman mereka. Tidak mau kalah satu sama lainnya, dan hal yang aku lakukan hanya tersenyum seolah lugu atau pura-pura tidak tau.
Lalu disini aku dapat menarik kesimpulan bahwa,
hidup di ibu kota pencitraan itu yang utama, baik dengan rekayasa atau realita yang di bumbui kebohongan. Dengan cara itu mereka bisa merasa angkuh dan lebih hebat dari teman mereka. Apalagi di depan teman lama yang tau akan sifat dahulu kita jadi seolah memperbaiki martabat atas kebodohan sifat dahulunya.
Hari ini aku mendapat pelajar lagi.
Ketika kamar ini disinggahi beberapa teman lama.
Namun beda gaya dan juga tingkah lakunya.
Memang, kali ini aku sengaja mengundang mereka yang masih mencari jati diri lewat pergaulan, yaitu lewat tingkah dan kelakuannya. Karena menurut mereka semakin menjual omogan semakin tinggi martabat dirinya. Dan dengan cara itu teman kita seolah di buat kagum oleh cerita hidupnya.
Padahal mereka sadar akan perbuatanya yang berimbas terhadap financial/keuangan keluarganya.
"lalu kami terduduk di ruangan yang sama, setelah basa-basi selayaknya teman yang berjumpa seperti biasanya"
Hal yang pertama mereka lakukan yaitu mengecek handphonenya. *10 menit berlalu dengan hening*
Lalu aku mencoba membuka obrolan yang memecahkan keheningan, dengan menanyakan hal-hal yang memancing mereka untuk pencitraan atas pergaulannya.
Dan ini lah yang aku tunggu, mereka mulai menggembor-gemborkan cerita yang sekiranya mereka fikir bisa mengangkat harga diri di depan teman mereka. Tidak mau kalah satu sama lainnya, dan hal yang aku lakukan hanya tersenyum seolah lugu atau pura-pura tidak tau.
Lalu disini aku dapat menarik kesimpulan bahwa,
hidup di ibu kota pencitraan itu yang utama, baik dengan rekayasa atau realita yang di bumbui kebohongan. Dengan cara itu mereka bisa merasa angkuh dan lebih hebat dari teman mereka. Apalagi di depan teman lama yang tau akan sifat dahulu kita jadi seolah memperbaiki martabat atas kebodohan sifat dahulunya.