Kepada Kesayanganku
Karya : Ponco Dwi Putra
Keke, Apa kabar?
Aku harap kamu baik-baik saja, dan aku harap kamu tidak rindu.
Sebab rindu itu
berat sayang, biar aku saja yang menderita karenanya...
Maaf, aku tidak
bisa pulang lebih awal. Masih banyak kewajiban yang harus aku selesaikan. Kamu
tau lah tamaknya si buncit itu, jika aku tidak turuti mau makan apa kita nanti...
Aku janji akan
pulang dengan bekal yang tidak sedikit, berharap kamu mengerti dan semoga itu
menjadi penawar sedihmu.
Walaupun aku tidak
yakin bahwa bekal yang aku bawa akan membuatmu bahagia.
Aku ingat ketika
aku seperti ini dan kembali kerumah, kamu pernah bilang.
“Sayang, harta
memang penting bagi kelangsungan hidup kita. Tapi yang jelas kamu harus tau,
kamu lebih berharga dari itu sayang. Jadi jangan biarkan harta membuat mu
menghilang dan terus menghilang” ucapan itu selalu teringat di kepalaku.
Sebab mau
bagaimana lagi, jika tidak ku pinang pekerjaan ini.
Bagaimana nanti
nasib si Bony dan Lotus, kedua putra kita.
Aku tak mau masa
depannya kelam, lebih baik tetap kujalani pekerjaan ini.
Sebagai investasi
untuk mereka berdua...
Oh iya sayang,
bagaimana kabar si kembar itu? Pasti semakin menggemaskan.
Tak sabar aku
ingin memeluknya dan berkata ayah pulang.
Sebab tak ada obat
lelah yang teramat berarti selain mereka, dan tentu juga kamu...
Jika kamu
menanyakan tentang aku? tenang, aku baik-baik saja.
Disini aku merasa
nyaman, sebab disini banyak orang baik.
Dan disini aku
juga punya teman dekat, namanya Pak Darmo.
Aku selalu menceritakan
dirimu kepada Pak Darmo.
Dia orang yang
baik dan juga murah senyum...
Aku minta maaf,
aku tidak bisa menemuimu pada lebaran kali ini. Aku hanya bisa sampaikan
rinduku pada Tuhan agar jaga kamu dan kedua putra kita.
Soal rumah barumu
dan si kembar, sudah aku sampaikan kepada ayah agar selalu memperindah nya.
Tak lupa juga
untuk merawatnya agar kamu merasa nyaman dengan si kembar...
Yang tenang disana
ya sayang, jika waktunya tiba aku akan menemuimu dan si kembar.
Disana kita akan
bangun keluarga kita yang sesungguhnya.
Yang abadi, dan
tidak fana lagi...
Tolong kamu
bacakan dengan lantang pada si kembar, biar mereka tau bahwa ayah sangat
merindukannya.
Jaga baik dirimu
disana ya sayang, aku sangat mencintaimu.
Joko Purnomo
Jakarta, 01-Oktober-2013...
Hanya itu yang
tersisa, pesan singkat yang di tulis sendiri oleh mas Joko kepada istri dan
anaknya. Semua kebahagiannya di renggut paksa karena kecerobohannya, Kejadian
itu terjadi tepat di satu tahun yang lalu....
Jakarta,08-Oktober-2012
Pagi ini semua berjalan ceria. Padahal hari ini tidak
ada yang istimewa, hanya hari libur pada umumnya akan tetapi mereka menyambutnya
dengan sangat penuh suka cita.
Ibu menyuruhku untuk memasak dengan porsi yang lebih
sedikit dari biasanya, ibu juga mengurangi kewajibanku seperti
membersihkan rumah, hari ini tidak perlu aku lakukan. Kata ibu, ibu tidak mau melihat
bi Ijah capek lagi...
*di meja makan*
“Ayah ayah ayo cepat kita baca doa, Bony tidak
sabar untuk pergi ke Bioskop” Ucap putra sulungnya.
“Iya ayah Lotus juga tidak sabar ayah”
Lanjut putra bungsunya.
Lalu datang si keke dari dapur...
“Ini yah, kopinya sudah aku buatkan
sendiri” Kata keke.
Mas Joko hanya membalasnya dengan tersenyum lalu kami
berdoa untuk memulai sarapan pagi bersama...
Selesai bersantap dan semua keperluan sudah beres,
kami pun berangkat ke tempat tersebut...
Di dalam perjalanan mereka sangat antusias. Terutama
si kembar, mereka terlihat bersemangat sekali sampai aku kewalahan bermain-main
dengannya. Ini benar-benar aneh biasanya mereka hanya bertengkar sampai salah
satunya menangis lalu tertidur. Begitu juga Keke, dia selalu menggenggam erat
tangan Mas Joko biasanya mereka hanya asik berbincang-bincang saja sambil
mengamati jalan...
*di pintu perlintasan Rel Kereta Api*
Palang perlahan menutup dengan sirine yang berbunyi
keras, kondisi jalanan macet.
“Jangan di paksa mas, lebih baik kita
menunggu. Di depan pun masih macet” Ucap keke, tapi mas Joko tetap memaksa
masuk karena melihat kereta masih jauh...
Lama menunggu, kendaraan di depan masih belum jalan.
Sampai keretanya mulai terlihat dari kejauhan, mas Joko dan keluarganya masih
terjebak di tengah perlintasan Rel KA. Klakson kereta terdengar keras, suara
orang di luar mobil beserta klakson kendaraan lainnya pun saling bersahutan,
semua terlihat kacau dan panik. Saat mobil di depan mas Joko sudah jalan,
tiba-tiba mobil mas Joko mati, tidak bisa di nyalakan lagi, di starter
berulang-ulang pun masih tidak nyala juga. Semua terlihat semakin panik, lalu
mas Joko berteriak untuk bergegas keluar, akan tetapi semua sudah terlambat....
“BRAAAAAAAKKKK!!!!”
Keras sekali suara mobil terhantam, semua terlihat
kacau dan perlahan penglihatan ku menjadi gelap dan tidak sadarkan diri...
Hanya peristiwa itu lah yang dapat ku ingat, kepalaku
terasa sakit setiap mengingatnya.
Semenjak peristiwa itu Mas Joko mengalami depresi
berat dan harus dirawat di RSJ Dr. Soeharto Heerjan kurang lebih 3 bulan
sebelum dia menyusul keluarga kecilnya. Yang aku tau semenjak peristiwa
tersebut mas Joko hanya bisa memandangi foto keluarga mereka sambil menangis
karena istri dan anak-anaknya harus meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Semuanya
meninggal, hanya aku dan mas Joko yang selamat atas insiden tersebut...
Kini kedua orang tua mas Joko sangat terpukul
sepeninggal kedua cucu dan juga menantunya, lalu di susul oleh kehilangan sang
anak semata wayang tercintanya, begitu juga dengan kedua orang tua keke. Semenjak
mas Joko masuk RSJ, aku bekerja untuk orang tua mas Joko...
TAMAT!!!