Selasa, 17 Januari 2017

Ayahku Di Bunuh Pekerjaan-nya

AYAHKU DI BUNUH PEKERJAAN-NYA
Karya : Ponco Dwi Putra 



“Bangun, cepat berangkat!” 
“Iya bu...” 
Tak ada percakapan hangat di pagi hari ini, Jarang sekali Ibu berbicara selugas itu... 

*Di meja makan* 

“Bu, ibu kenapa, ibu tampak marah, ibu marah sama aku?” 
“Engga, ibu tidak kenapa-napa. Cepat habiskan lalu berangkat” 
“Baik bu. Oh iya, ayah kapan pulang aku rindu ayah” 
Ibu hanya menantap ku, lalu beranjak pergi dari ruang makan... 

“Aku berangkat bu” 
Ibu ku hanya menjawab iya tanpa menoleh ke arah ku... 

Dalam perjalanan pikiranku berkecambuk, ada apa dengan ibu? Mengapa ibu menjadi seperti ini, apa ibu marah kepadaku? Entahlah. Aku sering merasa iri ketika melihat teman sekolah ku di jemput ayah atau ibunya, mereka terlihat sangat bahagia terlihat dari senyum mereka yang sumringah. 
Sesekali aku berangan-angan hal itu terjadi pada diriku walau hanya sebuah angan-angan tapi aku selalu menikmatinya, setidaknya sedikit mengobati rindu terhadap keluargaku yang tidak lagi utuh... 

*Sampai dirumah, aku melihat ibu sedang berleha-leha dengan tv nya* 

“Bu, Lotus pulang” Teriaku lantang 
“Iya Lotus” Sahut ibuku dengan nada ramah. 
Aku berpikir sepertinya ibu sudah tidak marah lagi padaku, terdengar dari suaranya yang seperti itu. 

“Lotus, sini nak ibu mau berbicara” *Teriak ibu*
“Sebentar bu, aku ganti baju dulu” 
“Tidak usah nak, ibu mau bicara penting” 
Dengan perasaan dongkol aku menghampiri ibu. 

“Duduk nak”
 Aku duduk di sebrang ibu dengan saling menatap. 

“Nak, kita harus pindah rumah. Di rumah ini sudah tidak aman” 
“Maksud ibu rumah kita kemalingan?” 
“Tadi ayah telepon ibu, kata ayah kita harus pindah ke tempat yang sudah disediakan” 
“Ayah telepon ibu? Aku mau bicara sama ayah aku rindu sama ayah. Sudah lama aku tidak melihatnya” 
“Kalau kamu ingin bertemu ayah, berkemas lah. Lalu nanti malam kamu tunggu dia disini” 
“Jika memang bertemu ayah, pasti aku lakukan” 
“Yasudah kamu mandi, makan,lalu siapkan barang-barangmu” 
Aku menyelesaikan kewajibanku dan segera mengemas barang-barang ku... 

Lama aku menunggu ayah, sampai mata ku terkantuk dan perut mulai bersuara, tapi aku lawan semua itu demi ayah.,.
Sampai akhirnya sebuah tinju melayang ke lenganku, tidak terlalu keras hanya seperti sapaan. 

“Kamu sudah besar Lotus, kamu juga semakin tampan seperti ayah” 
“Bapak ini, siapa? Bu, ini ada tamu.” 
Aku berlari ke kamar ibu, memang aku tidak boleh berbicara dengan orang yang belum di kenal, ibu selalu menyuruh aku seperti itu apalagi sampai ada orang yang menanyakan tentang ayahku. Lalu ibu keluar dengan membawa tas-tas bawaanya. 

“Kamu udah sampai mas?” 
“Iya, baru sampai. Lotus sini” Aku melirik ke ibu sambil tangan ku erat memeluknya. 
“Sana nak, kamu bilang ingin bertemu ayah” 
“Apakah kamu ayah saya? Ko ayah terlihat awur-awuran?” 
“Iya nak, papa sibuk kerja sampai lupa potong rambut” 
“Ayah kerja apa? Sampai lupa pulang kerumah?” 
“Ayah berjualan nak, dan berjualanya itu harus sembunyi-sembunyi” 
“Kenapa harus sembunyi yah? Kan ayah hanya berjualan?"
“Hust sudah-sudah ayuk berangkat, mencari penyakit saja” Ibu memotong pembicaraan kami. 
“Berangkat kemana bu? Kan besok aku sekolah?” 
“Iya kamu besok sekolah nak, kita hanya pindah rumah yang dekat sana” 
“Keke (Nama ibu ku), ini uang buat jajan si Lotus. Kalau soal kontrakan sama uang makan biar aku yang urus, nanti aku transfer. Aku pergi dulu ya ke, itu aku sudah sewakan mobil buat mengantarmu ke rumah yang baru, dan kamu Lotus, Ayah sayang kamu. Kamu harus jadi lelaki perkasa ya dan jaga Ibu kamu. Papa harus pergi dari sini, papa takut kalian terancam” 
Ayah mencium kening Ibu dan aku, lalu pergi meninggalkan kami berdua di tengah malam yang gelap...

 “Ayah mau pergi kemana lagi? Ayah mau meninggalkan kami lagi? Ayah sudah enggak sayang sama kami?” Ayah hanya tersenyum lalu melambaikan tangan, dan beranjak pergi menuju gelapnya malam.  “Bu, apakah ayah sudah tidak sayang sama kita? Kenapa ayah pergi lagi bu?” 
“Ayah sayang sama kita nak, ayah ga mau kita terancam. Ayah pergi karena ingin berjualan lagi” Jawab ibu, dan meneteskan air matanya, lalu aku menengok ke arah ayah, ternyata sudah hilang di telan ke gelapan...

Berangkatlah kami kerumah yang baru, dekat sekali dengan sekolahan aku,hanya 5 menit aku sudah sampai tujuan. 
 “Istirahat nak, besok kamu sekolah, baju kamu di taruh situ saja nanti ibu yang bereskan” 
“Baik bu” 

Entah kenapa setiap kami pindah rumah, rumah kami sudah terisi barang-barang yang baru dan bagus. Seperti kasur, Lemari, Tv, dan alat-alat lainya. 

 Keesokan paginya. 

 “Bangun nak, sekolah” 
“Baik bu” 

 *Di meja makan* 

 “Bu, barang-barang ini siapa yang belikan? Lalu bagaimana barang-barang yang dirumah lama? Kan masih bagus juga?” “Ini semua ayah yang belikan, barang-barang lama di beri ke pumulung, kata ayah biar saling membantu sesama” 
“Ayah baik juga ya bu,walau penampilanya terlihat seperti preman” 
Ibu hanya tersenyum dan merapikan meja makan. 
“Berangkat nak” 
“Baik bu” 

Di sekolah semua berjalan semestinya, tak ada yang aneh menurutku. Namun, saat pelajaran olahraga, ibuku datang ke sekolah dan menungguku di loby sekolah. Tangannya melambai, mengisyaratkan agar aku menghampirinya. Lalu aku mengiyakan dan menghampirinya... 

“Ada apa bu? Ko ibu terlihat pucat?” 
“Cepat nak, kamu ambil tasmu dan berkemas” 
“Baik bu” 
Lalu ibu menarik tangan ku keluar sekolah tanpa izin guru ataupun wali kelas ku, pak satpam hanya mengangguk karena percaya aku di jemput ibu karena urusan penting...

Sampai di rumah ibu mengunci pintu dan jendela serta menutup ordengnya, semua lampu dimatikan, termasuk handphone ibu. 
“Ada apa bu?” 
“Hust, kamu diam. Jangan menimbulkan suara dalam sehari ini” 
“Baik bu” 

Ibu dan aku duduk di kamar, tangan ibu kuat menggenggam tanganku. Mulut ibu komat-kamit, sepertinya ibu sedang membacakan doa. Aku hanya terdiam dan tidak mengerti keadaan ini. Lalu di luar terlihat bayangan yang sedang mengintip dari kaca ke arah dalam, kami melihatnya dari sela pintu kamar yang tidak tertutup sepenuhnya, karena di luar masih siang jadi terlihat bayangan hitam dari dalam. Tangan ibu semakin kuat menggenggam tanganku, mulut ibu membisu dan tangan satunya mendekap mulutku. 

“Dor,dor,dor. Buka pintunya, kami tau ada orang di dalam. Buka pintunya!” Terdengan suara dari luar dengan keras, seperti orang yang sedang marah. 
“Dor,dor,dor. Buka pintunya, atau kami dobrak!” Suara orang tersebut semakin keras. 
Ibu semakin panik, lalu ibu menutup pintu kamar dan menguncinya. 

“Braaaak!” Terdengar suara pintu terbanting dari luar kamar. Ibu menyuruhku bersembunyi di lemari, sedangkan ibu pura-pura tidur di kasur sambil memasang headset nya. Terlihat dari luar rombongan orang masuk kerumah kami, dan menyalakan lampu-lampu. 
“Buka pintunya” Teriak dari luar. Ibuku terlihat pucat, lalu ibu menyalakan lampu dan menoleh ke lemari, ke arah ku,dan menyuruhku keluar dari lemari tersebut, aku dapat melihatnya dari sela pintu lemari ini. 

Ibu membuka pintu kamarnya. 
“Ada apa ini pak? Kenapa rumah saya di acak-acak?” 
“Selamat siang bu, kami dari kepolisian ingin memeriksa rumah ibu, sebab rumah ini di curigakan menyimpan sesuatu.” 
“Maksud bapak menyimpan apa?” 
“Coba, tolong dibuka topengnya bapak itu"*orang itu menyuruh temannya yang membawa orang dengan kepala tertutup. 
"Ibu kenal dengan orang itu (pak polisi menunjuk kedepan kearah orang yang sedang di borgol)” 

Dan ternyata itu ayah. 
“Ayaaah!” Aku langsung berlari ke arah ayah, sedangkan ibu hanya menangis dan beranjak keluar dari rumah. 
“Ayah, ayah kenapa di ikat? Ayah, Lotus sayang ayah” 
“Maafin ayah nak” Ayah menatap ku sekejap lalu kembali tertunduk. 

Lalu seorang polisi mengangkat ku dan menghampiri ibu ku yang berada di luar rumah sambil menangis. 

 “Bu ayah kenapa? Kenapa ayah di perlakukan seperti itu” Ibu ku hanya memeluku erat sekali sambil menagis. Lalu para polisi itu pergi meninggalkan rumah kami yang sudah berantakan. Dan salah satu seorang polisi menghampiri ibu ku. 
“Bu, disini tidak ada barang bukti, tapi suami Ibu tetap kami bawa karena telah mebawa narkoba sejenis shabu seberat 5kg,terima kasih bu atasa kerjasamanya" ibu hanya tertunduk

Lalu ibu beranjak ke ruang tamu dan menyalakan televisi, di acara berita tersebut menyiarkan bahwa,
“Gembong narkoba tertangkap atas nama Nurdin atau biasa di panggil Baba yang membawa shabu seberat 5kg dan terancam hukuman mati” 
Disitu ibu ku tertunduk seperti menyesali keadaan, dan disitu aku mulai mengerti bahwa pekerjaan ayahku adalah penjual narkoba. Namanya sama dengan yang di televisi yaitu Nurdin biasa di panggil Baba. Aku mentap ibu yang sedang menangis, tidak lain tidak bukan karena ayah akan di vonis hukuman mati. 

 Jakarta,04-September-2016