Senin, 20 Februari 2017

Sapu Tangan Merah

Sapu Tangan Merah

Karya : Ponco Dwi Putra



“Ayo ayo Tegal,Tegal,Tegal. Langsung jalan tinggal 2 lagi. Ayo ayo...”
“Slawi,Slawi,Slawi...”
“Malang,Malang,Malang... Ayo malang masih muat masih muat”
Para kondektur saling berlomba menjajahkan jasanya.

Secangkir susu panas di sudut warung menemani saya menikmati pemandangan ini, sangat ramai dan juga bising. Semua orang terlihat sangat antusias, alasan mereka tentu karena rindu kampung halaman. Begitu juga saya, yang merupakan bagian dari mereka atau biasa disebut pemudik.

Habis sudah susu itu saya tenggak, lalu saya menukarnya dengan selembar uang kertas Lima Ribu an, dan saya beranjak mencari alat transportasi untuk membawaku ke tempat tujuan.

Tiba lah saya di mobil yang penumpangnya masih belum terlalu ramai, lalu saya duduk di bangku dengan nomor yang tertera di tiket. Sembari menunggu saya membuka handphone, hanya untuk memberi informasi agar keluarga saya tidak cemas.

Sekiranya 10 menit berlalu, mesin mobil mulai menyala. Padahal kursi-kursi masih lumayan yang kosong, hampir 20% dari jumlah kursi di bus. Perlahan mobil ini jalan dengan membunyikan klakson, seraya ucapan perpisahan pada terminal dan seisinya.

Perjalanan ini terasa sangat membosankan, sebab di malam hari tak banyak yang bisa di nikmati, ya seperti padi menguning atau senyum sumringah para petani, karena setiap lebaran tiba biasanya hasil panen yang di garap selalu menuai hasil maksimal.

Selang beberapa menit dari terminal, mobil ini berhenti. Saya pikir sudah sampai tempat istirahat, ternyata hanya untuk menaikan penumpang yang menunggu di pinggir jalan. Namun, di saat saya hendak tidur, saya justru tidak bisa. Ketika seorang wanita yang parasnya sederhana bak kembang desa duduk sejajar dengan saya, nafasnya tersengal-sengal dengan keringat yang membahasi keningnya. Lalu aku memberanikan diri dengan menyapanya...

“Mbak, kenapa nafasnya tersengal?” tanyaku.
“Eh anu mas, tadi bawaan ku berat. Dan buru-buru ngejar bis” sahut mbak ini yang belum aku tahu namanya.
“Mbak bawa minum? Kalau tidak minum saja punya saya, saya baru beli tadi” lanjut aku.
“Terima kasih mas, aku bawa ko” sahut mbak tersebut lalu menyekah keringat dengan sapu tangan
“Kenalin mba nama saya Lotus Merah, mba boleh panggil saya Lotus” menjulurkan tangan
“Nama aku Dwi Senja Melati, panggil saja Dwi” bersalaman...
Lama kami berbincang, ngalor ngidul (kesana-kemari) saling memuji satu sama lain. Lalu saya ambil kesimpulan, mbak Dwi ini tujuannya ke cirebon, sedangkan saya ke brebes, dan mbak Dwi ini juga merantau ke Jakarta sama seperti saya.

Asik kita berbincang, tak terasa sudah sampai Cirebon, jalanan terlihat renggang karena masih H-7 lebaran, jadi cepat sampainya.
“Aku turun duluan ya mas, semoga kita berjumpa lagi”
Aku hanya tersenyum dan kami bersalaman dan menutupi kekecewaan ku karena pertemuan ini terlalu singkat. Lalu Mutiara melambaikan tangannya ke arah ku.

Di dalam perjalanan aku hanya menyesali sambil tertunduk, bodoh sekali aku tidak meminta nomornya atau id pengenal lainnya. Sempat terbesit di benak ku untuk kembali dan menghampirinya, namun sudah begitu jauh, dan pasti Dwi sudah beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba handphone ku jatuh dari saku, karena kondisi gelap aku hanya meraba. Namun yang kudapati justru handphone dengan sapu tangan berwarna merah yang tadi di pakai Dwi untuk mengelap keringatnya. Okelah, aku pikir ini sebagai cendramata untuk penawar kekecewaan akan pertemuan yang singkat ini. Biar aku simpan dan akan aku kembalikan jika memang kita bersua lagi...


Cirebon-Brebes
Sapu Tangan Merah



                                                                                                          Jakarta,01-September-2016

0 komentar: