Sapu Tangan Merah
Karya : Ponco Dwi Putra
“Ayo ayo
Tegal,Tegal,Tegal. Langsung jalan tinggal 2 lagi. Ayo ayo...”
“Slawi,Slawi,Slawi...”
“Malang,Malang,Malang...
Ayo malang masih muat masih muat”
Para kondektur
saling berlomba menjajahkan jasanya.
Secangkir susu
panas di sudut warung menemani saya menikmati pemandangan ini, sangat ramai dan
juga bising. Semua orang terlihat sangat antusias, alasan mereka tentu karena
rindu kampung halaman. Begitu juga saya, yang merupakan bagian dari mereka atau
biasa disebut pemudik.
Habis sudah susu
itu saya tenggak, lalu saya menukarnya dengan selembar uang kertas Lima Ribu
an, dan saya beranjak mencari alat transportasi untuk membawaku ke tempat
tujuan.
Tiba lah saya di
mobil yang penumpangnya masih belum terlalu ramai, lalu saya duduk di bangku
dengan nomor yang tertera di tiket. Sembari menunggu saya membuka handphone,
hanya untuk memberi informasi agar keluarga saya tidak cemas.
Sekiranya 10 menit
berlalu, mesin mobil mulai menyala. Padahal kursi-kursi masih lumayan yang kosong,
hampir 20% dari jumlah kursi di bus. Perlahan mobil ini jalan dengan
membunyikan klakson, seraya ucapan perpisahan pada terminal dan seisinya.
Perjalanan ini
terasa sangat membosankan, sebab di malam hari tak banyak yang bisa di nikmati,
ya seperti padi menguning atau senyum sumringah para petani, karena setiap
lebaran tiba biasanya hasil panen yang di garap selalu menuai hasil maksimal.
Selang beberapa
menit dari terminal, mobil ini berhenti. Saya pikir sudah sampai tempat
istirahat, ternyata hanya untuk menaikan penumpang yang menunggu di pinggir
jalan. Namun, di saat saya hendak tidur, saya justru tidak bisa. Ketika seorang
wanita yang parasnya sederhana bak kembang desa duduk sejajar dengan saya,
nafasnya tersengal-sengal dengan keringat yang membahasi keningnya. Lalu aku
memberanikan diri dengan menyapanya...
“Mbak, kenapa
nafasnya tersengal?” tanyaku.
“Eh anu mas, tadi
bawaan ku berat. Dan buru-buru ngejar bis” sahut mbak ini yang belum aku tahu
namanya.
“Mbak bawa minum?
Kalau tidak minum saja punya saya, saya baru beli tadi” lanjut aku.
“Terima kasih mas,
aku bawa ko” sahut mbak tersebut lalu menyekah keringat dengan sapu tangan
“Kenalin mba nama
saya Lotus Merah, mba boleh panggil saya Lotus” menjulurkan tangan
“Nama aku Dwi Senja Melati, panggil saja Dwi” bersalaman...
Lama kami
berbincang, ngalor ngidul (kesana-kemari) saling memuji satu sama lain. Lalu
saya ambil kesimpulan, mbak Dwi ini tujuannya ke cirebon, sedangkan saya ke
brebes, dan mbak Dwi ini juga merantau ke Jakarta sama seperti saya.
Asik kita
berbincang, tak terasa sudah sampai Cirebon, jalanan terlihat renggang karena
masih H-7 lebaran, jadi cepat sampainya.
“Aku turun duluan
ya mas, semoga kita berjumpa lagi”
Aku hanya
tersenyum dan kami bersalaman dan menutupi kekecewaan ku karena pertemuan ini
terlalu singkat. Lalu Mutiara melambaikan tangannya ke arah ku.
Di dalam perjalanan
aku hanya menyesali sambil tertunduk, bodoh sekali aku tidak meminta nomornya
atau id pengenal lainnya. Sempat terbesit di benak ku untuk kembali dan
menghampirinya, namun sudah begitu jauh, dan pasti Dwi sudah beranjak pergi
meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba handphone ku jatuh dari saku, karena
kondisi gelap aku hanya meraba. Namun yang kudapati justru handphone dengan
sapu tangan berwarna merah yang tadi di pakai Dwi untuk mengelap
keringatnya. Okelah, aku pikir ini sebagai cendramata untuk penawar kekecewaan
akan pertemuan yang singkat ini. Biar aku simpan dan akan aku kembalikan jika
memang kita bersua lagi...
Cirebon-Brebes
Sapu Tangan Merah
Jakarta,01-September-2016
0 komentar:
Posting Komentar