Selasa, 25 Juli 2017

Keracunan Gengsi

Keracunan Gengsi
Karya : Ponco Dwi Putra


Pada dasarnya semua manusia mempunyai sifat jahat yang tertanam dalam diri, tinggal bagaimana kita mampu mengendalikannya. Termasuk bohong, bohong merupakan bagian dari sifat dasar manusia. Jujur saya sendiri sering bohong terhadap diri sendiri maupun orang lain, entah bagaimana bisa begitu mudahnya, karena bohong itu sudah di tanamkan tanpa sengaja oleh orang tua kita terdahulu sejak kita masih kecil. Mungkin kalian pernah dengar ucapan seperti ini “Jangan keluar, sekarang malam jumat. Ga boleh tidur malam-malam juga” dari point tersebut seharusnya kita bisa mengambil kesimpulan, malam jumat itu malam nya sunah rasul bagi suami istri. Jelas mereka sering mengucapkan seperti itu hanya agar supaya anak cepat tidur dan tidak menganggu malam tersebut.
Namun dalam tulisan ini kita tidak membahas tentang hal tersebut, dalam tulisan ini saya hanya menuliskan hal sederhana yang saya rasakan dengan sedikit kebohongan yang melengkapi, hanya untuk menyenangkan hati saya. Semoga bermanfaat...


21 Juli 2017, 22:30. “Mbrio Markas”

Malam itu...

Lampu menari, menyilaukan sepasang mata yang perlahan menipis. Lantunan musik khas seniman musik tanah air terdengar merdu, dia adalah Jason Ranti. Penyanyi kawakan yang mulai naik daun bagi kalangan anak muda, yang membuatnya khas, karena liriknya yang binal, dan beliau lah alasan kami pergi kesana. Kami? Ya, saya datang kesana bersama teman saya, panggil saja Borno, dan satu lagi si Tanjung, para pemuda pencari sarjana.

Pengalaman perdana datang ke tempat tersebut, hanya mengandalkan ilmu ke sotoy an di tempat yang asing seperti ini. 

Seorang waiters datang, “Silahkan, mau pesan apa dan duduk dimana?” Sapaan awal waiters tersebut.
“Kayanya nanti kita pesan sendiri aja mas, kita mau kedepan stage dulu” Jawab Tanjung diakhiri dengan senyum dan berlalu meninggalkan waiters tersebut.

Hari semakin malam, perlahan saya terbawa suasana, bernyanyi bersama dengan Jason Ranti membuat tenggorokan ini terasa kering. Kembali lah kita ke table pemesanan. Tanjung dan Borno yang memesan terlebih dahulu, “Mas bintang nya 2 ya” Tanjung membuka transaksi tersebut. Jelas dia hanya memesan 2 karena dia tau saya berusaha untuk tidak minum lagi, karena 3 tahun kita sekolah bareng, dia tau saya ingin melupakan hal seperti itu, walaupun saya juga tau mereka bukan peminum, hanya karena supaya mudah membaur dan sedikit mengurangi gengsi agar lebih percaya diri, saya sudah membaca pemikiran mereka sejak awal. Datanglah minuman tersebut, tinggal saya yang belum memesan, di daftar menu tertulis minuman yang jelas sekali saya tidak tau. 
(Ya tuhan haruskah saya meminum-minuman yang mengandung alkohol walaupun hanya sebatas golongan A yang kadarnya kecil? Karena minuman lain hanya ada aqua botol, itu tidak ada rasanya, sama sekali tidak mengobati tenggorokan ini) gerutu saya dalam hati. Lalu dengan nada guyon saya memesan...

“Mas, ini es teh manis engga ada ya?”, bartender terheran lalu menggelengkan kepalanya.
“Kalau kopi hitam?,  pertanyaan ini justru membuat bartender tertawa dan kembali menggelengkan kepalanya.
(Sial, apa mereka pikir kedua minuman tersebut tidak layak di tempat yang seperti ini? Apa minuman tersebut tidak memiliki gengsi atau nilai jual tinggi? Bangsat!) kataku dalam hati. Dengan terpaksa dan mencari aman, saya akhirnya memesan bintang juga seperti Tanjung dan Borno. Datanglah minuman berbotol hijau sedang dengan gambar bintang tepat di samping tangan, dengan harga satu botol tersebut Rp.46.000 (gila, harga yang mahal untuk minuman haram dan kecil seperti ini, apalagi untuk pemuda seperti saya yang berusaha me manage keuangan saya sendiri), mau gak mau saya harus membayarnya karena sudah di pesan. Usai sudah transaksi yang memberatkan hati saya ini, dan kembali menyaksikan Jason Ranti bernyanyi...

Bergejolak...

Dengan berat hati saya tenggak bir itu dalam keadaan kafir, tentu bukan maksud hati untuk menikmatinya, hanya saja saya selalu mensyukuri ciptaan tuhan. Entah timbul dari mana rasa bangga dalam diri, hanya saja setiap tegukan itu terasa sangat berarti, bangsat! Sialnya aku mulai tergoda.

Padahal itu yang namanya bintang, bloodymary, daiquiri, dry martini, mojito, cosmopolitan, dan apapun namanya, adalah setan! Termasuk tuak, arak bali, lapen, intisari, ciu, anggur merah, dan apapun namanya, juga setan! Itu semua adalah komplotan penghibur, yang pajaknya tinggi, dan harganya mahal, di bebankan ke konsumen. Anehnya tetap saja menjadi pilihan, kata penikmat persetan dengan pajak!

Terpaksa saya harus membohongi diri saya hanya karena sebuah gengsi, hanya karena kebudayaan konsumtif yang menimbulkan kriminalitas, hanya karena paksaan agar di terima dan meninggalkan sifat baik dalam diri. 

(Ya tuhan, hamba menyesal, walaupun hamba menikmati setiap tegukan demi tegukan, karena saat itu hamba merasa lebih tinggi dan di hargai, hamba tau itu salah, itu hanya sebuah perumpamaan yang membuat diri hamba semakin menghalalkan minuman tersebut. Hamba menyesal, hamba dengan sengaja memasukan hal yang haram kedalam tubuh hamba. Betul istilah lama yang mengatakan “penyesalan selalu datang belakangan” karena itu yang saya rasakan, tapi di balik itu saya percaya tuhan maha pengampun, tuhan juga tau kenapa atau mengapa saya melakukannya. 
Jadi percayalah tuhan akan mengampuninya asal berjanji tidak mengulanginya, termasuk kalian yang masih berkecimpung dalam dunia tersebut...

                                                                       
                                                                           ***


So guys, semoga tulisan ini ada faedahnya, yang merasa dirinya baik jika terjebak dalam keadaan seperti itu jangan malu untuk memesan yang halal saja, mengapa saya tidak demikian? Karena saya sadar saya bukan orang baik, saya pernah merasakan nakal seperti demikian, dan saat itu terdapat beberapa faktor yang membuat saya ingin melakukannya, yang paling utama adalah gengsi dan keinginan kembali mencobanya. Yakin lah, lurus kan niat, dan selebihnya saya yakin kalian akan kuat untuk melawanya.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat malam. Sekian dan terimakasih.

See you...

0 komentar: