Keracunan Gengsi
Karya : Ponco
Dwi Putra
Pada dasarnya semua manusia mempunyai sifat jahat yang tertanam
dalam diri, tinggal bagaimana kita mampu mengendalikannya. Termasuk bohong,
bohong merupakan bagian dari sifat dasar manusia. Jujur saya sendiri sering
bohong terhadap diri sendiri maupun orang lain, entah bagaimana bisa begitu
mudahnya, karena bohong itu sudah di tanamkan tanpa sengaja oleh orang tua kita
terdahulu sejak kita masih kecil. Mungkin kalian pernah dengar ucapan seperti
ini “Jangan keluar, sekarang malam jumat.
Ga boleh tidur malam-malam juga” dari point tersebut seharusnya kita bisa
mengambil kesimpulan, malam jumat itu malam nya sunah rasul bagi suami istri.
Jelas mereka sering mengucapkan seperti itu hanya agar supaya anak cepat tidur
dan tidak menganggu malam tersebut.
Namun dalam tulisan ini kita tidak membahas tentang hal tersebut,
dalam tulisan ini saya hanya menuliskan hal sederhana yang saya rasakan dengan
sedikit kebohongan yang melengkapi, hanya untuk menyenangkan hati saya. Semoga
bermanfaat...
21 Juli 2017, 22:30. “Mbrio
Markas”
Malam itu...
Lampu menari, menyilaukan sepasang mata yang perlahan menipis. Lantunan musik khas seniman musik tanah
air terdengar merdu, dia adalah Jason
Ranti. Penyanyi kawakan yang mulai naik daun bagi kalangan anak muda, yang
membuatnya khas, karena liriknya yang binal, dan beliau lah alasan kami pergi
kesana. Kami? Ya, saya datang kesana bersama teman saya, panggil saja Borno,
dan satu lagi si Tanjung, para pemuda pencari sarjana.
Pengalaman perdana datang ke tempat tersebut, hanya mengandalkan ilmu ke sotoy an di tempat yang asing
seperti ini.
Seorang waiters datang, “Silahkan, mau pesan apa dan duduk
dimana?” Sapaan awal waiters tersebut.
“Kayanya nanti kita pesan sendiri aja mas, kita mau kedepan stage dulu” Jawab
Tanjung diakhiri dengan senyum dan berlalu meninggalkan waiters tersebut.
Hari semakin malam, perlahan saya terbawa suasana, bernyanyi
bersama dengan Jason Ranti membuat tenggorokan ini terasa kering. Kembali lah kita ke table pemesanan.
Tanjung dan Borno yang memesan terlebih dahulu, “Mas bintang nya 2 ya” Tanjung
membuka transaksi tersebut. Jelas dia hanya memesan 2 karena dia tau saya
berusaha untuk tidak minum lagi, karena 3 tahun kita sekolah bareng, dia tau
saya ingin melupakan hal seperti itu, walaupun saya juga tau mereka bukan
peminum, hanya karena supaya mudah membaur dan sedikit mengurangi gengsi agar
lebih percaya diri, saya sudah membaca pemikiran mereka sejak awal. Datanglah
minuman tersebut, tinggal saya yang belum memesan, di daftar menu tertulis
minuman yang jelas sekali saya tidak tau.
(Ya tuhan haruskah saya meminum-minuman
yang mengandung alkohol walaupun hanya sebatas golongan A yang kadarnya kecil?
Karena minuman lain hanya ada aqua botol, itu tidak ada rasanya, sama sekali
tidak mengobati tenggorokan ini) gerutu saya dalam hati. Lalu dengan nada guyon saya memesan...
“Mas, ini es teh manis engga ada ya?”, bartender terheran lalu menggelengkan kepalanya.
“Kalau kopi hitam?,
pertanyaan ini justru membuat bartender tertawa dan kembali
menggelengkan kepalanya.
(Sial, apa mereka pikir kedua minuman tersebut tidak layak di
tempat yang seperti ini? Apa minuman tersebut tidak memiliki gengsi atau nilai jual
tinggi? Bangsat!) kataku dalam hati. Dengan terpaksa dan mencari aman, saya akhirnya memesan bintang
juga seperti Tanjung dan Borno. Datanglah minuman berbotol hijau sedang
dengan gambar bintang tepat di samping tangan, dengan harga satu botol
tersebut Rp.46.000 (gila, harga yang mahal untuk minuman haram dan kecil seperti ini, apalagi
untuk pemuda seperti saya yang berusaha me manage
keuangan saya sendiri), mau gak mau saya harus membayarnya karena sudah di pesan. Usai sudah transaksi yang
memberatkan hati saya ini, dan kembali menyaksikan Jason Ranti bernyanyi...
Bergejolak...
Dengan berat hati saya tenggak bir itu dalam keadaan kafir, tentu
bukan maksud hati untuk menikmatinya, hanya saja saya selalu mensyukuri ciptaan
tuhan. Entah timbul dari mana rasa bangga dalam diri, hanya saja setiap tegukan
itu terasa sangat berarti, bangsat! Sialnya aku mulai tergoda.
Padahal itu yang namanya bintang, bloodymary, daiquiri, dry
martini, mojito, cosmopolitan, dan apapun namanya, adalah setan! Termasuk tuak,
arak bali, lapen, intisari, ciu, anggur merah, dan apapun namanya, juga setan!
Itu semua adalah komplotan penghibur, yang pajaknya tinggi, dan harganya mahal, di bebankan ke konsumen. Anehnya tetap saja menjadi pilihan, kata penikmat persetan dengan
pajak!
Terpaksa saya harus membohongi diri saya hanya karena sebuah
gengsi, hanya karena kebudayaan konsumtif yang menimbulkan kriminalitas, hanya
karena paksaan agar di terima dan meninggalkan sifat baik dalam diri.
(Ya tuhan,
hamba menyesal, walaupun hamba menikmati setiap tegukan demi tegukan, karena
saat itu hamba merasa lebih tinggi dan di hargai, hamba tau itu salah, itu
hanya sebuah perumpamaan yang membuat diri hamba semakin menghalalkan minuman
tersebut. Hamba menyesal, hamba dengan sengaja memasukan hal yang haram kedalam
tubuh hamba. Betul istilah lama yang mengatakan “penyesalan selalu datang belakangan” karena itu yang saya rasakan,
tapi di balik itu saya percaya tuhan maha pengampun, tuhan juga tau kenapa atau mengapa saya
melakukannya.
Jadi percayalah tuhan akan mengampuninya asal berjanji tidak
mengulanginya, termasuk kalian yang masih berkecimpung dalam dunia tersebut...
***
So guys, semoga tulisan ini ada faedahnya, yang merasa dirinya
baik jika terjebak dalam keadaan seperti itu jangan malu untuk memesan yang
halal saja, mengapa saya tidak demikian? Karena saya sadar saya bukan orang
baik, saya pernah merasakan nakal seperti demikian, dan saat itu terdapat
beberapa faktor yang membuat saya ingin melakukannya, yang paling utama adalah
gengsi dan keinginan kembali mencobanya. Yakin lah, lurus kan niat, dan selebihnya
saya yakin kalian akan kuat untuk melawanya.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat malam. Sekian
dan terimakasih.
See you...
0 komentar:
Posting Komentar